INFOSUARAMABES.ID, SEKADAU – Proyek Rekonstruksi Jalan BTS Sanggau–Sekadau yang menggunakan dana APBN Tahun Anggaran 2024 kini menjadi sorotan publik. Proyek yang menelan anggaran hingga Rp18.488.658.000 (Delapan belas miliar empat ratus delapan puluh delapan juta enam ratus lima puluh delapan ribu rupiah) tersebut diduga gagal mutu dan terindikasi adanya penyimpangan dalam pelaksanaannya.
Pekerjaan proyek tersebut dilaksanakan oleh PT Teknik Berjaya Selaras sejak 12 Februari 2024 dengan waktu pengerjaan selama 300 hari kalender. Namun, berdasarkan pantauan tim Redaksi Nuusantara News di lapangan, hasil pekerjaan dinilai jauh dari harapan masyarakat.
Kondisi Jalan Bergelombang dan Berlubang
Dari hasil penelusuran, kondisi jalan terlihat bergelombang, banyak tambalan, dan dipenuhi lubang. Dugaan sementara, lapisan aspal terlalu tipis serta terdapat indikasi mark up volume pekerjaan.
“Kalau lihat hasilnya, sepertinya aspalnya tipis bang. Beberapa minggu lalu sudah ditambal, tapi sekarang berlubang lagi,” ujar seorang warga pengguna jalan saat ditemui pada Kamis, 23 Oktober 2025.
Indikasi Penyimpangan dan Dugaan Mark Up
Selain masalah kualitas, masyarakat juga menyoroti kemungkinan penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa, terutama terkait perbedaan volume antara dokumen lelang dan realisasi di lapangan.
Hal ini diperkuat dengan hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa pekerjaan tidak memenuhi spesifikasi teknis sebagaimana mestinya, menimbulkan kekhawatiran atas efektivitas penggunaan dana publik tersebut.
“Kalau dilihat dari ketebalan aspal dan pengerasan jalannya, sepertinya tidak sesuai spesifikasi. Padahal anggarannya besar. Mutunya benar-benar rendah,” ungkap salah satu pemerhati pembangunan yang ikut menyoroti proyek tersebut.
Desakan Evaluasi dan Tindakan Hukum
Melihat kondisi tersebut, publik mendesak agar instansi terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan proyek tersebut. Bahkan, sebagian pihak meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun tangan untuk menelusuri dugaan penyimpangan anggaran.
Tim investigasi menilai, indikasi rendahnya mutu pekerjaan kemungkinan besar disebabkan oleh kinerja kontraktor yang tidak profesional serta kurangnya pengawasan dari pihak pelaksana teknis di lapangan.
Hingga berita ini diterbitkan, tim redaksi masih berupaya mengonfirmasi pihak kontraktor pelaksana, PT Teknik Berjaya Selaras, serta instansi terkait guna memperoleh klarifikasi lebih lanjut.
(Tim Redaksi)





